Revolusi Mesir, Revolusi Social Media

Hari-hari ini dunia dibuat tercekat menyaksikan aksi massa ratusan ribu warga Mesir yang menyuarakan kemarahan mereka terhadap rezim Husni Mubarak. Gelombang warga Mesir dari beragam latar belakang turun ke jalan-jalan, dari Suez sampai Kairo, melawan petugas keamanan yang mencoba menghalangi upaya mereka menumbangkan rezim Mubarak yang sudah berkuasa tanpa tanding selama 30 tahun. Tapi langkah petugas keamanan itu sia-sia, informasi mengalir begitu cepat dan massif melalui jejaring social media. Informasi berupa teks, foto dan video mengalir melalui komputer hingga ponsel, yang membuat ratusan ribu warga dari seluruh penjuru kota di Mesir menjadi melek terhadap perkembangan terbaru.

[tweetmeme source=”republiktwitter” only_single=false]

Tak bisa dimungkiri, social media lekat dengan revolusi di Mesir, setelah sebelumnya pecah revolusi ‘Jasmin” di Tunisia dan rakyat negeri itu sukses menjungkalkan penguasa korup Zine el-Abidine Ben Ali. Di sini social media berperan penting sebagai katalisator gerakan massa, yang kemudian disatukan oleh kemarahan yang sama terhadap rezim Mubarak. Twitter dan Facebook digunakan untuk menggalang info dan gerakan, yang lalu merembet seperti amuk api yang tak bisa dipadamkan lagi. Akumulasi kemuakan yang terpendam begitu lama kemudian pecah menjadi tekad baja untuk menumbangkan Mubarak dan partai berkuasanya, Partai Demokrat Nasional (NDP). Massa bergerak pada 25 Januari 2011 dan bertekad tak akan mundur sebelum Mubarak dan NDP tutup layar.

Gelombang massa itu bersatu dalam kemarahan, disaksikan dan dimonitor langsung oleh pemerintah dan warga di seluruh dunia melalui jejaring social media via situs-situs micro-blogging dan  jejaring pertemanan seperti Twitter dan Facebook. Bahkan stasiun TV Al-Jazeera juga memaksimalkan fasilitas Internet, ketika rezim Mubarak melakukan aksi pemutusan akses total  terhadap jejaring social media. Memutus akses? Betul, rezim Mubarak kemudian memutus akses jejaring social media agar apa yang terjadi tidak diketahui dunia luar. Tindakan ini meniru pemerintah komunis China yang memutus komunikasi dengan dunia luar,  ketika militer membantai para demonstran di lapangan Tiananmen pada 1989.  Tapi, langkah ini sudah terlambat. Seluruh dunia menyaksikan kebrutalan petugas keamanan yang sejauh ini telah menewaskan lebih dari 140 orang sipil dan melukai lebih dari 4.000 orang lainnya.

Selain Al-Jazeera yang menjadi satu-satunya sumber televisi yang mewartakan revolusi rakyat di Mesir melalui jaringan TV dan social media, sejumlah media lain juga memaksimalkan penggunaan social media. Situs Mashable menyebutkan, organisasi berita NPR, CNN, The New York Times, Al-Jazeera English dan lainnnya menghimpun daftar Twitter wartawan dan warga yang mengirim tweet mereka dari Mesir.

Wartawan lain ada pula yang menggunakan Facebook, dan memuat status pengamatan dan komentar mereka dari lapangan. Ketika Al-Jazeera ditutup dan dilarang beroperasi (izin para jurnalisnya juga dicabut) oleh kementerian informasi Mesir, stasiun TV ini tak kehabisan akal karena wartawannya tetap mengirim tweet melalui livestream milik mereka tanpa menyebut nama jurnalis yang mengirimkan berita. Selain itu, video juga diunggah melalui situs YouTube, sehingga dunia tetap dapat menyaksikan perkembangan berita dari Mesir.

Penutupan akses Internet dan komunikasi di Mesir tak pelak juga mengundang kreativitas dan inovasi baru. Para ahli teknik dari Google, Twitter dan SayNow bekerja keras membangun layanan speak-to-tweet (suara ke tweet) agar para demonstran tetap bisa memberikan informasi keluar Mesir.

Layanan tersebut, yang baru saja diluncurkan pekan ini, memungkinkan para penggunanya mengirimkan tweet dengan menggunakan koneksi suara. Siapa saja bisa mengirimkan tweet dengan meninggalkan voicemail pada satu dari tiga nomor panggilan internasional: +16504194196 or +390662207294 atau +97316199855.  Tweet yang dikirimkan dengan menggunakan layanan ini akan secara otomatis mengikutkan simbol hashtag #egypt.

Para peminat juga bisa mendengarkan langsung pesan dari demonstran dengan memutar nomor-nomor tersebut, dan dengan mengklik link-link yang diposting ke @speak2tweet.

Berapa besar jumlah tweet yang dikirimkan oleh pengguna Twitter di Mesir? Perusahaan social media intelijen Sysomos menggunakan Media Analysis Platform (MAP), dan menghasilkan sebuah gambaran visual respons para pengguna  Twitter di tengah berlangsungnya revolusi untuk menumbangkan Mubarak.

Aidan Suryakusuma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s