Hari Bakar Quran, Idul Fitri dan Peringatan 9/11 (Update)

Dunia bernapas lega. Sehari sebelum hari-H, “Aksi hari bakar Quran sedunia (International Burn a Koran Day)” akhirnya batal dilakukan oleh Terry Jones, seorang pendeta dari sebuah gereja komunitas kecil di Gainesville, Florida Amerika Serikat (AS). Terry memimpin gereja  Dove World Outreach Center, sebuah gereja kecil yang hanya beranggotakan  50 jemaat. Kepada media massa, Terry menyatakan “menunda” bukan “membatalkan”. Tapi di lain kesempatan dia juga bilang, tak akan pernah mau melakukannya lagi. Entah mana yang benar.

[tweetmeme source=”republiktwitter” only_single=false]

Setidaknya, upaya banyak orang untuk menghambat rencana gila itu telah berhasil. Tak kurang sejumlah petinggi AS, Presiden Obama, kalangan rohaniwan gereja, media massa, kalangan lintas agama, bahkan masyarakat sekitar domisili gereja yang dipimpin Terry Jones, menyatakan penolakan terhadap aksi yang berpotensi menyulut konflik dengan konsekuensi tak terbayangkan tersebut.

Hal ini sekaligus membuktikan bahwa cara-cara demokratis, beradab dan mengikuti pesan damai agama yang tanpa kekerasan, cukup manjur dalam menghentikan sebuah langkah berbahaya. Kegilaan yang dibalas dengan sikap sama gilanya hanya akan memicu kegilaan yang lebih gawat lagi. Umat Islam sudah cukup positif dengan menunjukkan sikap sabar, menahan diri dan senantiasa konstruktif dalam menghadapi hari aksi bakar Quran sedunia yang diprakarsai oleh Terry Jones.

Kegilaan Terry, yang tentu saja tidak mewakili sikap umat Kristen di Amerika, sepertinya memang disengaja untuk menyulut bara konflik agama di Amerika dan seluruh dunia. Terry tak peduli, kebenciannya terhadap agama Islam berpotensi  memicu konflik yang lebih luas antara penganut Islam dan Kristen secara global. Hari aksi barbar itu sengaja dipilih pada hari yang sangat krusial, yakni Sabtu tanggal 11 September 2010. Ini adalah hari peringatan pengeboman menara kembar WTC pada 11 September 2001, dan bertepatan dengan perayaan Idul Fitri oleh umat Islam di seluruh dunia.

Suhunya kian panas, karena bersamaan pula dengan agitasi konyol para politisi Partai Republik  –yang mengobarkan penolakan terhadap rencana pembangunan sebuah pusat komunitas Muslim di Lower Manhattan, New York. Agitasi politik ganas ini bersambut hingga ke dunia maya. Di Twitter juga muncul pengacau yang rajin mengirim tweet pelesetan dan menghina. Pusat komunitas yang diprakarsai kelompok Sufi pimpinan imam Feisal Abdul Rauf, Cordoba House,  itu jaraknya dua blok dari bekas lokasi menara kembar WTC. Para penentang pusat komunitas itu tak mau tahu, bahwa di dalam pusat komunitas itu, selain bagi umat Islam, juga disediakan tempat beribadah terpisah bagi umat Kristen dan Yahudi. Bahkan di dalamnya juga akan dibangun tempat peringatan antaragama yang didedikasikan bagi para korban serangan 9/11.

Meski diawali dari sebuah gereja kecil, tapi Terry yang kini selalu menyelipkan senjata api di pinggangnya itu, tak kekurangan  pendukung. Dia cermat memanfaatkan momentum hingga namanya kini menjadi terkenal ke seantero muka bumi. Momentumnya adalah peringatan 9/11 dan  penolakan pembangunan komunitas Muslim di dekat eks menara WTC, dengan sebuah masjid termasuk di dalamnya. Kedua peristiwa itu  jelas potensial menambah dukungan terhadap aksinya. Di situs pertemanan Facebook, suara  terbelah antara yang menganggapnya sebagai “pahlawan” vs yang menganggapnya sebagai pengacau.  Bagusnya, media-media massa arus utama juga terus mewartakan penolakan terhadap aksi tak bertanggung jawab tersebut.

Namun, secara umum, gereja dan komunitas Kristen Amerika mengambil jarak dan mengecam aksi provokasi Terry Jones. Menjelang hari bakar Quran, peringatan 9/11 dan perayaan Idul Fitri secara serempak pada Sabtu, 11 September ini, Islamic Society of North America (ISNA) menggalang dukungan dari organisasi-organisasi keagamaan penyokong pluralisme atau dialog antariman. Beberapa hari sebelum Idul Fitri, para pemimpin keagamaan yang mewakili Katolik, Protestan, Kristen Ortodoks, Yahudi dan Islam, melakukan pertemuan darurat di Washington dan  mengecam aksi Terry Jones.

“Ini bukanlah Amerika,” kata Kardinal Theodore E. McCarrick, mantan uskup agung Katolik Roma di Washington, dalam konferensi pers bersama para pemimpin agama lainnya di National Press Club. “Amerika tidak dibangun di atas kebencian.”

Rabbi David Saperstein, mewakili Religious Action Center of Reform Judaism, menyatakan: “Kami tahu rasanya saat orang lain menyerang kami, baik verbal maupun fisik, dan banyak yang hanya berdiam diri. Ini tak boleh terjadi di sini di Amerika pada 2010.”

Mereka semua sepakat menyatakan bahwa “serangan anti-Muslim” dan serangan terhadap beberapa masjid, seperti pembakaran,  berpotensi memecah belah Amerika. Selain itu, juga meruntuhkan reputasi negeri itu sebagai model keberagaman dan kebebasan beragama.

Beberapa pimpinan antaragama itu lebih jauh lagi telah menemui Jaksa Agung Eric H. Holder Jr. dan mendesaknya untuk secepatnya mengadili para pelaku kejahatan atas nama agama.

Para pemimpin agama tersebut tidak mengeluarkan pernyataan soal rencana Cordoba House membangun  pusat komunitas Muslim di dekat bekas lokasi WTC.  Namun, di antara mereka, ada National Council of Churches, sebuah payung organisasi yang mewakili 100.000 gereja di Amerika, yang terang-terangan menyatakan dukungan terhadap pembangunan pusat komunitas Muslim di sana.

Di sisi lain, bagi pemerintah AS, situasi ini menjadi dilema. Di satu sisi, ada Amandemen Pertama, konstitusi yang menjamin kemerdekaan warga AS mengungkapkan ekspresi. Di sisi lain, aksi Terry Jones selain membahayakan keselamatan militer AS di Afganistan dan Irak, juga berpotensi menimbulkan aksi balasan di negara-negara berpenduduk mayoritas Islam. Tak kurang Deplu AS dan Gedung Putih menyatakan penolakan terhadap aksi Terry Jones. Komandan militer AS di Afganistan, Jenderal  David H. Petraeus, juga memperingatkan, video tentang pembakaran Quran itu akan memicu kekerasan dan membahayakan militer AS. Sekjen NATO, Anders Fogh Rasmussen, pun mengeluarkan peringatan senada Petraeus.

Presiden Obama sendiri telah menyampaikan kecaman kerasnya terhadap langkah Terry Jones. “Kalau dia mau mendengarkan, saya berharap dia paham bahwa apa yang akan dilakukannya itu sangat bertentangan dengan nilai-nilai Amerika,” kata Obama dalam wawancara yang disiarkan program Good Morning America di stasiun TV ABC, Kamis (9/9).  Senada Jenderal Petraeus, Obama mengingatkan dampak pembakaran Quran terhadap militer AS di Irak dan Afganistan.

Di Indonesia, penentangan terhadap rencana aksi bakar Quran telah pula dilakukan para pemimpin organisasi antaragama. Aksi demonstrasi besar di depan Kedutaan Besar AS juga sempat terjadi.  Beruntung, Pemerintah Indonesia akhirnya cukup tanggap. Menjelang perayaan Idul Fitri, Presiden SBY mengirim dua surat ke Presiden Obama dan Sekjen PBB, yang meminta agar dilakukan upaya untuk menghentikan aksi Terry Jones yang berpotensi menyulut konflik antaragama. Meski terkesan terlambat, pernyataan sikap  soal isu sensitif ini telah ikut menenteramkan semua pihak di dalam negeri.

Akhir kata, selamat merayakan HARI RAYA IDUL FITRI 1431 HIJRIAH . Minal Aidin Wal Faizin. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga fitrah kembali menjadi milik kita semua. Amin…

Aidan Suryakusuma

Sumber: NYT, WSJ dll.

Foto: Associated Press

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s