WikiLeaks, Julian Assange dan Perang PR via Twitter (Update)

Amerika Serikat murka besar sepanjang pekan ini. Hanya gara-gara satu pria asal Australia, keamanan nasional negara adidaya itu dan misi pendudukannya di Afganistan dipertaruhkan. Siapa lagi pemicunya kalau bukan pendiri NGO WikiLeaks, Julian Assange, 39,  mantan hacker bengal sejak muda, yang kini memegang kendali atas 91.000 dokumen rahasia perang brutal (war log) AS di Afganistan.

[tweetmeme source=”republiktwitter” only_single=false]



Bejibun dokumen pendudukan AS di Afganistan sepanjang 2004-2010 itu mencakup  deskripsi lengkap beragam peristiwa kejahatan perang, dilengkapi lokasi geografis tempat kejadian. Ada peristiwa kecil dan ada pula yang kolosal tapi tak terendus media. Menurut Julian, pengunggahan sebagian besar dokumen itu di situs WikiLeaks (sejak 25 Juli 2010) akan mengubah opini masyarakat, para politisi dan diplomat berpengaruh di dunia. Atas permintaan sumbernya yang masih dirahasiakan jatidirinya, masih ada 15.000 dokumen lagi yang ditunda pengungkapannya di situs wikiLeaks.org. Kata Julian, para pengobar perang AS jauh lebih berbahaya ketimbang dirinya. “Saya suka menghancurkan para jahanam itu,” kata Julian, yang menganggap apa yang dilakukannya tak ada beda dengan pekerjaan jurnalisme. Di dunia maya julukannya beragam, dari sebutan ‘renegade journalist’ hingga  ‘cyberpunk journalist.’

Meski Pentagon  menjadikan analis intelijen militer AS,  Bradley Manning, sebagai tersangka utama pembocor dokumen ke WikiLeaks, namun dukungan terhadap WikiLeaks terus bertambah kian hari. Banyak pembocor (whistleblower) baru yang mengirimkan data  macam-macam, termasuk  pelecehan seksual di tubuh militer AS, ke situs WikiLeaks hanya sepekan setelah Julian Assange menggemparkan dunia dengan pengunggahan ribuan dokumen rahasia di situsnya.  Manning kini sedang menunggu pengadilan militer dan ditahan di penjara Washington DC.

Karena kegemparan yang dibuatnya jelas bakal membahayakan misi AS, Julian Assange kini disamakan dengan Daniel Ellsberg, pembocor Pentagon Papers saat Perang Vietnam berkecamuk. Ketika itu,  Presiden Richard Nixon mengumpat Daniel Ellsberg sebagai makhluk paling berbahaya di Amerika. Julian enteng menegaskan, buat dia manusia paling berbahaya adalah para pelaksana perang saat ini. “Mereka harus dihentikan,” kata dia. “Kalau gara-gara itu saya jadi berbahaya di mata mereka, maka jadilah.”

Sementara itu, kepada pers di Gedung Putih, Presiden Obama mencoba menyepelekan puluhan ribu dokumen rahasia yang berada di tangan Julian.  Meskipun para petinggi Gedun Putih dan Pentagon sudah mengeluarkan kecaman kemarahan terhadap WikiLeaks, namun Obama mencoba tetap diplomatis. “Tak ada hal baru di dokumen itu yang belum pernah kami diskusikan terbuka selama ini,” kata Obama.

Di sisi lain, Admiral Mike Mullen, kepala staf gabungan AS, berupaya  menerapkan taktik PR via Twitter untuk meredam dokumen/war log perang Afganistan oleh WikiLeaks. Mike Mullen membuka front tempur baru melalui jejaring social media. Reaksinya pertamanya ke publik tidak dilakukan melalui konferensi pers atau mengeluarkan rilis pernyataan resmi, tapi melalui ketikan 140 karakter via Twitter.

Dengan postingan atas nama akun  @thejointstaff, Mike Mullen menulis begini di Twitter:

Appalled by classified docs leak to WikiLeaks & decision to post. It changes nothing on Afghanistan strategy or our relationship w/Pakistan” (Terkejut dengan kebocoran dokumen rahasia kepada WikiLeaks & keputusan untuk memublikasikannya. Itu tak mengubah strategsi Afganistan atau hubungan kami dengan Pakistan).

Admiral Mullen sedang berada di Afganistan ketika berita kebocoran dokumen itu dimuat di harian The Guardian, New York Times, dan Der Spiegel. Tak lama setelah mengirimkan tweet tentang pandangannya, dia lalu menyelenggarakan konferensi pers konvensional di Bagdad, Irak.

Belakangan, suara Admiral Mullen semakin keras. Tangan WikiLeaks dan Julian Assange, “berlumur darah para tentara  muda AS dan keluarga Afgan,” katanya. Dengan menyebut ‘keluarga Afgan’, dia mengaitkan para informan lokal yang bakal terancam Taliban karena nama mereka tercantum dalam dokumen WikiLeaks. Agak ironis, karena realitasnya justru kehadiran ratusan ribu tentara AS dan sekutunya jelas telah menumpahkan darah ribuan orang Afganistan tanpa pandang bulu.

Karenanya, Julian enteng saja menjawab bahwa semuanya itu terjadi karena kecerobohan AS sendiri yang membiarkan data rahasia militernya ‘gampang diakses’. Menurutnya, semua dokumen itu tersedia dan bisa diakses melalui SIPRNET (Secret Internet Protocol Router Network) -standar jejaring Internet rahasia di bawah kendali Departemen Pertahanan AS, yang bisa diakses ratusan ribu tentara dan kontraktor pertahanan dari seluruh dunia.

Kini dunia menunggu kapan Julian membuka semua dokumen rahasia kekejaman perang yang dilakukan AS di Afganistan. Dunia menanti bocoran lengkap WikiLeaks!

Aidan Surya Kusuma

Sumber: The Guardian, Der Spiegel, dll.

Foto: Axel Martens/der Spiegel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s