Media Cetak: Adaptasi Online Atau Mati

Lupakan dulu prediksi suram tentang media cetak di masa depan. Apalagi tudingan bahwa media cetak juga tidak ramah lingkungan, mengingat  kertas media cetak diambil dari sumber hutan. Media cetak memang sedang menghadapi tantangan besar, dari jebloknya iklan, kebangkrutan, perampingan karyawan,  kekuasaan pemodal yang terlalu besar, dan kapital yang tidak lagi mudah didapat.

[tweetmeme source=”republiktwitter” only_single=false]

Situasinya semakin berat dengan maraknya berita yang bisa dibaca melalui online secara gratis dalam satu dekade terakhir.  Media cetak, terutama di Amerika Serikat, berupaya bermanuver dengan menerapkan sistem paywall (bayar untuk baca berita), tapi kandas karena tak diminati. Anak-anak muda terutama lebih berminat membaca melalui social media, memilih berita sesuai yang diminati dan gratis. Merosotnya jumlah pembaca jelas bukan berita baik pula buat pemasang iklan.

Laporan majalah Economist belum lama ini  menyebutkan media cetak mampu beradaptasi untuk bertahan hidup. Tapi itu dilakukan dengan pemangkasan dan perampingan staf, bukan karena inovasi. Meski demikian, daya tahan ini tidak ditopang kekuatan iklan seperti dulu. Belanja iklan suratkabar turun 9,7% (majalah juga jeblok), sebaliknya belanja iklan di Internet melesat 7,5%,  begitu pula TV (naik 10,5%) dan iklan radio (naik 6%). Pendapatan iklan di Internet diperkirakan akan melampaui media cetak pada 2014, atau mungkin lebih cepat lagi.

Trend global yang kini diwarnai pesatnya penggunaan social media punya ciri nyaris seragam. Media dituntut menyajikan kepada para pembacanya berita apa yang mereka inginkan. Media menjadi lebih berorientasi konsumen dan terus mencari ceruk. Editor harus bekerja lebih kreatif untuk mengidentifikasi kekuatan pemberitaan dan menginvestasikan anggaran yang dimiliki untuk menggali ceruk tersebut.

Apa jalan keluarnya? Mengutip para pakar, media konvensional seperti suratkabar, TV dan radio, tetap akan bertahan hidup dan mungkin saja bisa tumbuh. Syaratnya, mereka berani melakukan inovasi dan memanfaatkan secara maksimal perangkat digital, serta menyajikan content terbaik kepada para pembaca.

Di samping itu, media dan para jurnalis harus berinisiatif agar lebih melibatkan para pembacanya, terkoneksi dengan para narasumber dan membangun brand media tempat bekerja  melalui pemanfaatan situs-situs jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Youtube dan seterusnya.

Aidan Surya Kusuma

24 Juni, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s