Coca Cola, Starbucks dan Social Media

Apa hubungan Coca Cola dan Starbucks? Tak ada hubungan kerabat. Tapi, keduanya menghimpun jutaan orang dalam satu komunitas fans kedua perusahaan itu melalui Social Media.

[tweetmeme source=”republiktwitter” only_single=false]

Merebaknya fenomena Social Media atau dikenal juga sebagai Web 2.0 telah mengubah praktik bisnis dan marketing di seluruh dunia. Dunia bisnis dan marketing tidak sama lagi seperti dulu. Kita menyaksikan ledakan eksponensial pengguna yang memanfaatkan Social Media melalui situs-situs jejaring sosial di Internet.

Social Media  efektif melintasi sekat-sekat yang membatasi orang dalam membangun hubungan sosial dan bisnis, membangun komunitas yang loyal,  merekatkan hubungan konsumen-marketer/merchant/produsen, berbagi informasi, dan berkolaborasi proyek. Singkatnya, semua perangkat Web 2.0  seperti blog, wiki, dan situs-situs social-networking   dimanfaatkan maksimal.

Pendeknya, kita sekarang hidup dalam zaman ketika hampir semua orang terkoneksi tanpa batas negara. Internet telah berkembang pesat  dari hanya sekadar alat komunikasi via e-mail dan situs Web.  Kini ratusan juta individu, pelaku bisnis dan komunitas terkoneksi dan saling berkomunikasi melalui situs-situs Social Media seperti  Facebook, Twitter, Linked-in, Foursquare, MySpace, dan banyak lagi. Teknologi yang  membuat situs-situs ini semakin canggih juga terus berkembang.

Perusahaan raksasa dunia seperti Coke dan Starbucks dikenal termasuk pelopor pemanfaatan Social Media untuk membangun brand dan marketing mereka:

  • Brand building dan promosi. Coke memperkuat Coke’s community dan berhasil menggalang lebih dari 5,7 juta anggota melalui situs jejaring sosial Facebook.
  • Customer feedback.   Starbuck juga membangun komunitasnya sendiri dan berhasil menggalang 7,5 juta orang angota   Starbucks’ community. Mereka bisa memberi feedback cita rasa kopi apa yang diinginkan tersedia di Starbuck.

Dengan perkembangan pesat Social Media di seluruh dunia, bagaimana para pebisnis di Indonesia memanfaatkan ini? Sejauh ini belum ada catatan pasti yang memantau seberapa besar pebisnis yang sudah memanfaatkan Social Media untuk kepentingan bisnis mereka. Tapi pelan-pelan  pemanfaatan Social Media secara sporadis sudah bisa dilihat di sekitar kita, ini merupakan pertanda bagus. Memang masih perlu penyadaran tentang potensi eksponensial Social Media yang boleh dibilang tanpa batas.

Bisa dikatakan, bila pebisnis tidak memaksimalkan pemanfaatan Social Media, maka  mereka akan tertinggal di belakang mitra yang sudah lebih dulu memanfaatkannya.  Selain berdampak pada efektivitas bisnis, ketertinggalan ini juga akan berdampak pada citra perusahaan yang akan dinilai konservatif dan tak responsif dengan kemajuan zaman. Seperti dinosaurus, betapa pun besarnya, perusahaan yang tak bersentuhan dengan Social Media memang selayaknya sudah tak ada lagi saat ini. Kecuali hanya tinggal fosil atau nama. Itu pun kalau diingat orang.

Aidan Surya Kusuma

15 Juni, 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s